Momentum Transformasi Diri

 

Tanpa terasa waktu terus berganti dan berganti. Dentang kedatangan tahun baru Hijriyah telah bergema seiring tibanya tanggal 1 Muharram 1439.

Dalam menyongsong rutinitas sehari-hari, terkadang manusia lengah akan perputaran waktu, sehingga tanpa disadari waktu berlalu begitu saja. Semua tentu bergulir otomatis apa adanya menuju ke tahun berikutnya dengan meninggalkan sejuta kenangan yang ada pada tahun sebelumnya. Ketika momentum tahun baru Hijriyah datang menyapa umat Islam, seolah-olah mereka tersentak sadar betapa berharganya waktu dan miskinnya makna yang telah dirajut selama setahun yang silam.

Kita tentu sadar sepenuhnya bahwa umur manusia merupakan modal yang setiap saat selalu berkurang dan akan sia-sia bahkan membawa celaka apabila tidak diinvestasikan dalam pengabdian kepada Allah SWT. Waktu setahun atau sebulan, seminggu atau sehari, sejam atau semenit bahkan sedetik yang dihembuskan tidak akan pernah kembali  lagi, ia tidak bisa menarik kembali momen itu untuk hadir sekarang. Dengan kata lain umur kita senantiasa berkurang seiring dengan bergantinya waktu. Pertanyaannya adalah apakah umur yang telah kita lalui itu akan membawa kepada keberuntungan (pahala) atau justru membuahkan  kerugian (dosa)? Bukankah sebesar apapun modal yang dikeluarkan tentu hasil yang akan dipetik relevan dengan modal yang diinvestasikan.

Dalam konteks inilah maka momentum tahun baru Islam harus menghadirkan kegelisahan eksistensi semacam itu. Sehingga introspeksi terhadap diri sendiri merupakan suatu keniscayaan bagi kita, apakah kita telah mungukir waktu ke waktu sebelum ini dengan kebaikan atau justru bergelimang dalam kedurjanaan, keburukan dan atau kedurhakaan. Apakah panjangnya usia yang telah dilalui  selama ini sudah diisi dengan nilai-nilai kebajikan dan ketaatan atau justru malah dirajut dengan berbagai kelalaian, kemaksiatan dan kepongahan yang berakhir dengan kesia-siaan. Inilah makna terdalam dari pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”

 

Semoga refleksi tahun baru Hijriyah kali ini dapat mentransformasi anasir-anasir kemusyrikan menjadi seorang muslim berideologi tauhidiyah, cara berpikir liberalisme yang menafikan nilai-nilai wahyu menjadi pola pikir yang dilandasi dengan kontrol wahyu ilahiyah, dan yang terakhir dapat mentransformasi tingkahlaku kita yang selama ini tidak memperhatikan moral atau akhlak sehingga selalu bergelimang maksiat dan dosa menjadi berprilaku Islami yang dapat kita praktekkan secara konsisten. Wallahu alam, (red/dv)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *